Pada tahun 2013, APRIL menginisiasikan Restorasi Ekosistem Riau (RER), sebuah inisiatif restorasi ekosistem yang bertujuan untuk melindungi, merestorasi, dan mengkonservasi hutan lahan gambut yang penting secara ekologis di Provinsi Riau, Indonesia.

Program ini merupakan bagian dari komitmen APRIL mengkonservasi satu hektar lahan untuk setiap hektar yang ditanam, di bawah izin restorasi ekosistem selama 60 tahun yang diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Hingga saat ini, upaya APRIL telah mencapai 83% dari targetnya dengan lebih dari 400.000 hektar lahan hutan dilindungi dan dikonservasi. Pada tahun 2015, APRIL menginvestasikan USD100 juta untuk konservasi dan restorasi dalam jangka panjang.

Pada awal berdirinya empat tahun lalu, RER dimulai dengan melindungi dan merestorasi 20.000 hektar hutan gambut di Semenanjung Kampar, Riau. Pada COP-21 tahun 2015 di Paris, APRIL mengumumkan perluasan RER hingga 150.000 hektar yang mencakupi Pulau Padang, yang juga berada di Provinsi Riau. Mitra-mitra seperti Fauna & Flora International (FFI), The Nature Conservancy (TNC) and LSM sosial lokal BIDARA, memberikan keahlian sosial dan ilmiahnya terkait pelaksanaan program ini, dan kami akan terus bekerja dengan organisasi-organnisasi terkemuka  seperti mereka.

Semananjung Kampar, khususnya, menjadi penting sebagaimana telah diakui oleh by BirdLife International, the International Union for Conservation of Nature (IUCN), the Wildlife Conservation Society (WCS), dan WWF secara berurutan sebagai sebuah Kawasan Burung Utama/Important Bird Area (2004),  Kawasan Keanekaragaman Hayati Utama/Key Biodiversity Area (2006), dan Kawasan Konservasi Harimau/Tiger Conservation Area (2017).

Lebih lanjut, The Nature Conservancy mencatat pada tahun 2017 bahwa 344.000 hektar blok hutan gambut di Semanajung Kampar merupakan hutan gambut terluas di Riau saat ini, di mana kualitasnya dijaga dan terus membaik dan memberikan sebuah hubungan penting antara blok-blok hutan alam yang tersisa di Riau dan kawasan Konservasi Satwa Liar Kerumutan (Kerumutan Wildlife Conservation).

APRIL Dialog berbincang dengan Bradford Sanders dari RER, mengenai program, progres yang telah dicapai dan pentingnya keterlibatan masyarakat.

RER berbicara mengenai restorasi ekosistem sebagai sebuah proses empat tahap. Dapatkah Anda menjelaskan lebih lanjut mengenai hal tersebut?

Melindungi, menilai, merestorasi, dan mengelola, begitu lah urutannya. Pertama, bentang alam perlu untuk dilindungi dari ancaman-ancaman pembukaan lahan baru atau degradasi yang dapat menimbulkan dampak-dampak lainnya. Selanjutnya adalah penilaian atas ekosistem dan lingkungan sosial yang mana menginfomasikan tahap ketiga, strategi restoasi dan pekerjaan mengenai hidrologi, tumbuhan asli dan spesies-spesies satwa liar. Tahap akhir adalah proses pengelolaan bentang alam secara terus menerus untuk memastikan keberlanjutan dari sumber daya alam di area konsensi.

Jadi, berada pada tahap mana RER saat ini?

Ini merupakan proses konstan dan tidak linear. Seluruh tahapan sedang berlangsung di sejumlah area berbeda dalam 150.000 hektar. Perlindungan hutan diterapkan di seluruh area RER dengan mencegah penebangan liar, pembalakan, dan pembakaran. Karbon, masyarakat, dan penilaian-penilaian keanekaragaman adalah proses yang tengah dilakukan dengan mmitra kami, FFI, yang telah menyelesaikan tiga dari lima area konsensi dengan total luas 92.507 hektar.

Restorasi hidrologi dimulai pada tahun 2015 dengan ditutupnya sejumlah kanal lama yang tidak dikelola atau ilegal, dan akan berlanjut hingga semua kanal ditangani.

Rencana Aksi Restorasi tengah dirancang untuk spesies satwa liar dan tumbuhan tertentu, termasuk habitat tepi pantai.

Manajemen adalah kebutuhan yang terus diperlukan. Misalnya, saat ini RER tengah mengembangkan Kelompok-Kelompok Perikanan yang mengawasi dan mendokumentasi hasil tangkapan ikan, sehingga tren dapat dianalisis untuk mengembangkan sejumlah rencana terkait peningkatan populasi ikan.

Tahap penilaian sangat penting dalam menetapkan tolak ukur. Apakah hal ini berarti setiap proyek restorasi memiliki keunikan atau caranya masing-masing?

Ya, sejumlah aktivitas restorasi disesuaikan untuk sumber daya tententu berdasarkan kondisi saat ini dan kondisi yang diinginkan di masa mendatang.

Apakah terdapat sejumlah aturan umum yang dapat diterapkan pada sebuah proyek restorasi?

Sebuah peraturan yang sangat penting adalah perlunya keterlibatan pemangku kepentingan secara luas, baik dari masyarakat lokal maupun ahli ilmiah. Selain itu, dalam semua kasus, restorasi harus disesuaikan dengan lokasi spesifik dan dipantau secara terus menerus, dinilai, dan diperbarui berdasarkan hasil penilaian.

Kami juga perlu untuk mengakui bahwa restorasi membutuhkan waktu dan investasi yang signifikan, dalam jangka panjang dan terjamin. Sejumlah hasil tidak muncul secara cepat dan membutuhkan konsistensi dalam penerapannya.

Apakah dapat diketahui berapa jangka waktu untuk merestorasi sebuah hutan? Apa sajakah faktor-faktor yang mempengaruhi hal tersebut?

Jangka waktunya bisa sangat bervariasi, tergantung pada titik awal dan tentu saja yang paling penting, tingkat degradrasi.

Faktanya, sebuah hutan hujan tropis dapat pulih dengan sendirinya, contohnya setelah letusan gunung berapi, dalam 80 hingga 120 tahun, jika terjadi gangguan serupa. Restorasi aktif dapat mempercepat proses dan jangka waktu secara teoritis atau mengarahkannya pada jalur tertentu.

Seberapa penting masyarakat dalam sebuah proyek restorasi?

Pengetahuan masyarakat setempat dan penerimaan upaya-upaya restorasi yang institusional merupakan hal yang penting. Jika tidak, maka akan muncul gangguan-gangguan lainnya dan menunda upaya-upaya restorasi dan pemulihan tersebut.

Kolaborasi antara manajer restorasi lahan dan masyarakat penting untuk memastikan masyarakat akan terus memiliki akses terhadap sumber daya yang mereka butuhkan dari hutan untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan.

Apa saja tantangan-tantangan operasional dalam merestorasi hutan di lahan gambut?

Kami memiliki daftar panjang mengenai tantangan-tantangan. Hal tersebut termasuk akses ke daerah terpencil, tingkat ketinggian air, gelombang panas dan kelembaban, tidak adanya alat bantu navigasi alami karena medan yang datar dan pendeknya jarak pandang, tidak stabilnya pijakan karena akar yang terbuka, dan banyaknya serangga dan satwa liat yang berpotensi membahayakan.

Lalu, terdapat fakta bahwa kami masih belajar mengenai jalur-jalur suksesi ekosistem hutan gambut. Misalnya, jika titik awal pemulihan dan restorasi adalah lahan gambut yang telah dikeringkan, dibakar, dipadatkan, dan dikonversi kepada spesies yang dikenalkan, saat ini hanya sedikit prosedur atau jadwal yang terdokumentasi untuk menerapkan aktivitas pengelolaan yang bertujuan mengembalikan situs tersebut ke komposisi spesies awal, stoking atau distribusi  ukuran pohon-pohon dan tumbuhan-tumbuhan.

Sejumlah tantangan tersebut meliputi: mengembalikan ketinggian permukaan air, mengendalikan keberadaan spesies yang dikenal, mendapatkan kualitas dan kuantitas yang cocok untuk menanam bibit dan/atau sumber benih alami, waktu dan kepadatan penanaman yang tepat, dan pengaruh siklus kekeringan dan banjir. Ini lah mengapa restorasi bentang alam hutan memerlukan keterlibatan dan dukungan multipihak, dan agar masukan-masukan ilmiah dapat diterima dan dipahami.

Pada akhirnya, terdapat bahaya dari gangguan-gangguan yang terus berulang dari pembalakan atau kebakaran yang dapat menghilangkan bertahun-tahun penanaman atau restorasi dan pertumbuhan pohon setiap harinya.

Apa pencapaian yang paling menonjol sejauh ini?

Sejak RER didirikan pada tahun 2013, kami telah mengembangkan sejumlah sistem perlindungan hutan dan kebakaran, termasuk bekerja untuk meningkatkan kepercayaan dan kerja sama dengan nelayan lokal untuk terus memasukkan sungai-sungai ke dalam area RER.

Sejak tahun 2015, kami senang untuk melaporkan bahwa sejauh ini tidak ditemukan penebangan liar, kebakaran atau pembalakan hutan di area RER. Ini merupakan salah satu dari ‘periode istirahat’ panjang yang pernah dialami area RER sejak tahun 2013 dan sangat meningkatkan kemampuan hutan dan satwa liar untuk pulih secara alamiah.

Bagaimana Anda dapat mencapai hal tersebut?

RER secara total memiliki 64 karyawan dan lebih dari 100 penjaga hutan kontrak dan staf yang bekerja untuk melindungi dan merestorasi hutan setiap hari.

Lebih dari 80% tenaga kerja RER berasal dari dua kabupaten di Riau di mana RER berada, Pelalawan dan Kepulauan Meranti. Hal ini menunjukkan komitmen masyarakat lokal untuk merestorasi ekosistem dan membantu RER membangun kepercayaan dan pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan para pengguna hutan.

Kami fokus pada upaya-upaya perlindungan hutan kami pada titik-titik akses utama ke hutan dan tetap berhubungan secara terus menerus dengan para pengguna hutan untuk menentukan dan menerapkan aktivitas-aktivitas yang diperbolehkan secara legal untuk dilakukan di dalam hutan.

RGE APRIL Berry SangarNursery 19 1 — APRIL Asia

Para rangers RER

RER menyeimbangkan restorasi tumbuhan dan hewan – yang mana yang paling penting? Bagaimana Anda menyeimbangkan masing-masing kebutuhannya?

Restorasi tumbuhan merupakan yang paling penting, artinya, sebuah habitat yang tepat harus tersedia untuk sebuah spesies hewan agar dapat bertahan hidup dan berkembang biak.

Kapankah sebuah hutan dapat dianggap telah ‘terestorasi’?

Hal tersebut merupakan sebuah proses yang berkelanjutan. Cara lain untuk menganggap kondisi ini sebagai restorasi dengan ‘pemulihan’ yakni di mana nilai-nilai tertentu telah dikembalikan atau dipulihkan ke area hutan dan yang mana memenuhi kebutuhan manusia. Hal itu lah yang ingin kita capai.

RGE APRIL Berry SangarNursery 10 1 — APRIL Asia

Pembibitan pohon spesies lokal di RER untuk ditanam di area-area restorasi.

Apa momen yang paling berkesan sejak bekerja untuk RER?

Terdapat banyak momen yang berkesan –  tim yang sungguh-sungguh berdedikasi dan berkeinginan kuat untuk melindungi dan merestorasi hutan gambut.

Salah satu peristiwa paling berkesan dan tidak terduga adalah ketika mendengar dari Petugas Lingkungan dan Penjaga Hutan RER  bahwa ada buaya air asin di Sungai Serkap di dalam area RER.

Kami telah mendengar rumor tersebut dari nelayan lokal, namun kami belum mempercayainya sampai kami memasang kamera tangkap dekat sungai sehingga kami dapat mendokumentasikan bahwa makhluk berukuran empat meter ini benar-benar ada. Jelas, staf kami tidak ada lagi yang mau berenang di sungai!

Untuk informasi lebih lanjut mengenai Restorasi Eksostem Riau, silahkan kunjungi: www.rekoforest.org

svg+xml;charset=utf — APRIL Asia
sustainable growth — APRIL Asia

Method

Waste disposed is recorded through various means of measurement including estimation of weight by waste type. Particular waste types as described above are measured as a wet waste and converted to a bone dry (BD) weight. The wet waste weight is multiplied by the consistency of each waste type to determine the BD. The consistency is predetermined by the lab.

Baseline
71kg/T

Performance 2022

On Track

sustainable growth — APRIL Asia

Method

The DPTW utilisation rate and % of textile waste per tonne of product will be based on R&D lab/pilot/demo procedures.

Baseline
0%

Performance 2022

In Development

sustainable growth — APRIL Asia

Method

Water consumption per tonne of product is calculated based on water consumed in the production of saleable pulp, paper, viscose staple fiber and viscose yarn measured by flow meters, via calculation and water balances divided by the production figures for saleable pulp, paper, viscose staple fibre and viscose yarn.

Baseline
28 m3/T

Performance 2022

Not Progressing

sustainable growth — APRIL Asia

Method

Soda content within the liquor cycle and losses are determined by means of mass balance based on daily lab analysis.

Lime volume in the lime kiln and losses are determined by means of lime make-up.

The recovery rate is calculated net of the percentage of make-up amounts added. The annual figure is based on the average monthly recovery rate.

Baseline
96%

Performance 2022

Not Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

Number of Mill and Nursery contractor calculated based on Man Power data which grouped by gender level calculated as a monthly average.

Baseline
2571

inclusive progress — APRIL Asia

Method

The number of own and supply partners employees is calculated based on year-end Man Power data which is grouped by gender. The identification of leadership position refer to employees’ grade D2 or Manager level and above.

Baseline
55 women employees in leadership positions

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

Women’s effective participation is identified from the participation list for each program. Percentage of female participation is calculated by the number of women participating divided by the total participants.

Baseline
34%

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

In development

Baseline
In development

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

In development

Baseline
In development

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

In development

Baseline
In development

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

We engaged third party to conduct assessment in APRIL-supported schools using the framework that was developed by Research Triangle Institute (RTI) and USAID.

Baseline
In development

Performance 2022

Progressing

inclusive progress — APRIL Asia

Method

Poverty mapping is identified through:

  1. Desktop analysis using National Statistics, Village Potential Statistics, SMERU Poverty Map.
  2. On-the-ground verification through FGD, village transect walk, interview with community.

Baseline
3%

Performance 2022

Progressing

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Peer-reviewed scientific journal publication standards

Baseline
1

Performance 2022

On Track

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Documentation of Participation (presentation of papers or posters) in national and international dialogues, workshops and conferences

Baseline
6

Performance 2022

On Track

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Number of scientists from universities and research institutions that have collaborated with APRIL on peatland management during the calendar year

Baseline
9

Performance 2022

On Track

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Wood deliveries (excluding open market supply) to the mill are used as a basis to calculate MAI (Tonnes/ Ha/Yr). The MAI is based on the 3 year area weighted rolling average growth for all closed compartments.

Baseline
20T/ha/yr

Performance 2022

On Track

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Methodology to be developed specific to animal species and does not include plants. Qualifying initiatives may vary widely in nature but must have the animal protection as the primary objective.

Partnerships will be developed and documented in line with an overarching strategy prioritizing stakeholders and threats specific to the country of Indonesia assessed.

Performance 2022

Progressing

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

May include various initiatives relating to conservation of RTE species to be defined in a priority list, initiatives may be conducted solely or in collaboration with other stakeholders.

Baseline
2

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Methodology to be developed to measure change in ecosystem services and values over time (carbon sequestration, water provision, resource provision including fish and honey)

Baseline
not yet developed

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Reports for reforestation of previously encroached and degraded area including all areas where assisted natural regeneration, planting or enrichment planting of species that improve habitat value have taken place during the year but excludes natural regeneration.

Baseline
275 ha

Performance 2022

Progressing

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Area within conservation is derived from land bank which is based on land cover analysis and is updated annually to capture any boundary changes, land use changes or measurement data.

Baseline
0 ha Net loss

Performance 2022

Not Progressing

thriving landscapes — APRIL Asia

Method

Landscape conservation funding includes restoration and conservation costs associated with the RER as well as the allocation of a proportion of the costs related to APRIL’s maintenance of conservation values under its production-protection model. The allocation is based on proportionate amount of each cost that is related to conservation and restoration.

The wood volume is based on wood delivered to the Mill.

Baseline
USD$0.7 per tonne of plantation fiber

Performance 2022

On Track

climate positive 1 — APRIL Asia

Method

Mill

Calculate from the records of fuel types used the amount consumed in boilers to generate power, heat and steam including energy use for mobile & including transportation. Each of the fuel types are converted to energy expressed by Giga Joule Lower Heating Value (GJ LHV) following the IPCC guidelines.

Baseline: 87%

Performance 2022

On Track

Forest Operations

Calculate from the records of fuel types the quantity consumed by major categories of forest management activities by Fiber operations.

This covers energy used for Forest operations, infrastructure including wood transport from estate to mill; When a blend of fuel types is used (such as B20) the contribution to renewable and cleaner energy targets is calculated separately for each fuel rather than considering the blend as a cleaner fuel type.

Baseline: 19%

Performance 2022

Progressing

climate positive 1 — APRIL Asia

Method

APRIL follows the international GHG protocol as developed by WRI/WBCSD to develop its emissions profile. The total emissions measured as emissions intensity is calculated based on tonnes of Scope 1 and 2 Mill Greenhouse Gas Emissions per tonne of product (paper, pulp and viscose). The emissions boundary scope covers gate-to-gate (wood processing in wood yard until pulp, paper and viscose production) of the three main GHGs: CO2, CH4, and N2O.

Baseline
0.55 tCO2e/product tonne

Performance 2022

On Track

climate positive 1 — APRIL Asia

Method

To quantify the total GHG emission and removals across APRIL’s land bank from land use, APRIL follows the GHG Protocol Agricultural Guidance and IPCC Guidelines for Agricultural, Forestry, and Other Land Use. To detect the land cover change within the look-back period, i.e. 20 years APRIL utilized the remotely sensed data.

The GHG emission will be calculated as the total of carbon stock changes in woody biomass and soil organic carbon and include all major carbon fluxes such as peat decomposition, plantation growth and harvesting, and fires.

To quantify the amount of carbon unit to balance the emission, the Verified Carbon Standard (VCS), the Climate, Community and Biodiversity Standards (CCB), or other internationally accepted standard will be used.

Performance 2022

Progressing

This site is registered on wpml.org as a development site. Switch to a production site key to remove this banner.